DO NOT MISS

Minggu, 06 September 2015

Rupiah Bisa Gempur Dolar "BI Optimis"

Add caption
JAKARTA,TEGARNEWS.com Kepala Divisi Departemen Valas BI Rahmatullah Sjamsudin mengatakan, meski level rupiah saat ini sudah menembus angka Rp 14.000-an, kondisi ekonomi saat ini berbeda dengan 1998. Saat ini, pelemahan mata uang terjadi di semua negara, akibat rencana kebijakan bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed) yang akan menaikkan tingkat suku bunganya secara gradual.
Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan segera membaik. Keyakinan serupa juga dialami oleh negara lain yang sama-sama nilai mata uangnya melemah. Kondisi saat ini berbeda dengan krisis 1998 dan BI juga memiliki strategi agar rupiah tidak makin melemah dan melainkan mencari titik keseimbangan.Dampak
 dari rencana tersebut, tercatat membuat beberapa mata uang negara berjatuhan. Mata uang Australia -14%, New Zealand -18%, Norwegia -9%, Brazil -29%, Turki -21%, Malaysia -18%, dan Indonesia -12%.
“Walaupun levelnya (rupiah) sama, tapi ini cerita yang berbeda. Karena rencana The Fed membuat dolar ‘pulang kampung’. Akibatnya semua mata uang melemah terhadap dolar AS. Tapi, kalau sejarah bisa terulang kembali, setelah The Fed sudah menaikkan suku bunganya maka pelemahan ini bisa mereda,” katanya dalam workshop BI dengan topik Pengaruh Perkembangan Pasar Keuangan Global Terhadap Nilai Tukar Rupiah di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (5/9).
Rahmatullah mengatakan, setidaknya ada beberapa indikasi yang dapat mendukung keyakinan bahwa rupiah akan membaik, setidaknya berbeda dari kondisi 1998 yang tembus Rp 16.950 per dolar AS.
Dari indikator makro misalnya imbal hasil (yield) yang ditawarkan Indonesia masih menarik ditambah fundamental ekonomi yang masih bagus, defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit) dari 2,05% terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadi -2,16%, cadangan devisa meningkat dari US$ 23,76 miliar menjadi US$ 107,55 miliar, utang eksternal dapat terkendali dari 126,69% per kapita menjadi 34,42% per kapita, perubahan kurs rupiah dari -48% menjadi -13,4%.
Sementara indikator perbankan nampak dari rasio kecukupan modal (CAR) dari -15,70% menjadi 20,1%, rasio kredit bermasalah (NPL) dari 48,60% menjadi 2,56%, suku bunga deposito 1 bulan dari 41,42% menjadi 7,76%.
“Dari sisi pemerintah didukung oleh sistem pemerintahan yang lebih demokratis, besarnya potensi melalui perkembangan infrastruktur, pendalaman pasar keuangan, transaksi hedging yang sudah mulai efektif,” tambah dia.
Dari indikator tersebut, maka dia meyakini level psikologis rupiah itu hanya merupakan suatu kekhawatiran. Pasalnya, The Fed diprediksi tidak akan menaikkan suku bunganya terlalu tinggi, mengingat ekonomi Tiongkok dan Eropa.
Meski yakin kondisi sekarang tak lebih parah dari 1998, namun BI kata Rahmatullah, memiliki strategi agar rupiah tidak makin melemah, melainkan mencari titik keseimbangan. Namun, penyelesaian tersebut dilakukan BI dengan tidak terlalu keras guna menghindari kegaduhan di pasar dan membuat kepanikan para pelaku usaha.

EDITOR: SB BUDI W
SUMBER: MONETER. CO

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 iso 9001 Certification. Designed by OddThemes