DO NOT MISS
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Oktober 2015

RAPBN 2016: Bertemunya Ambisi Liar Presiden Jokowi dengan Hasrat Bancakan Oligarki Politik


Oleh: 
SALAMUDDIN DAENG
Ekonom AEPI Jakarta


RAPBN 2016 segera akan disahkan dengan mempertahankan berbagai kesalahan fundamental di dalamnya. Target penerimaan yang masih ambisius mengikuti logika APBN 2015 yang seluruh targetnya tidak tercapai dan seluruh asumsinya jauh panggang dari api.

Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi 5,5 % di tengah pelemahan ekonomi nasional dan perekonomian global. Tidak ada satu faktor pendukung asumsi yang terlalu optimistik tersebut. Melemahnya harga komoditas di pasar global yang menjadi andalan Indonesia, melemahnya kredit yang selama ini menopang konsumsi dan melemhnya konsumsi masyarakat yang selama ini menyumbang 55 % PDB, membuat target pertumbuhan sebesar itu tidak akan terealisasi yang justru akan menciptakan ketidakpercayaan pasar.

Asumsi lainnya yang keliru adalah menyangkut nilai tukar yang dipatok Rp 13.400/‎ USD, yang sulit tercapai karena tingginya defiist transaksi berjalan, dan cadangan devisa yang telah menipis tersisa 100 miliar USD atau hanya 10% GDP. Rupiah dipredikisi akan berada pada posisi Rp 14.400 sampai 2016 mendatang. Demikian pula asumsi inflasi sebesar 4,7 % tidak rasional terlihat jika melihat inflasi YOY antara 7-9 %. Sebagai pembanding tingkat inflasi Mei 2015 terhadap Mei 2014 (tahun ke tahun) sebesar 7,15 %.

RAPBN 2016 masih menetapkan target penerimaan yang tinggi, di tengah kelesuan ekonomi dan dunia usaha. Target penerimaan pajak dan cukai naik‎. Padahal target dalam APBNP tahun 2015 tidak tercapai. 

Sebagaimana diketahui target APBN 2015 yakni penerimaan perpajakan ditargetkan sebesar Rp 1.489.255,5 atau meningkat sebesar 29,9 % dari realisasi tahun sebelumnya. Padahal rendahnya realisasi pertumbuhan ekonomi pada semester I tahun 2015 membuat pemerintah merevisi target penerimaan perpajakan hingga akhir tahun 2015 menjadi sebesar Rp1.366.996,6 miliar atau lebih rendah Rp122.258,8 miliar dari target dalam APBNP tahun 2015. Inipun masih terlalu tinggi dikarenakan tahun 2014 realisasi penerimaan pajak hanya menjadi 6,5 persen. ‎

Demikian pula dengan target pendapatan pajak dalam negeri tahun 2016 adalah sebesar Rp 1.524.012,7 miliar, meningkat sebesar 5,8 % jika dibandingkan dengan targetnya dalam APBNP tahun 2015 atau sebesar 14,8 % jika dibandingkan dengan perkiraan realisasi tahun 2015. ‎Padahal pada saat yang sama pemerintah mengobral insentif, segala bentuk kemudahan pajak, hingga tax holiday untuk penanaman modal.‎

Pemerintah juga masih berambisi mengeruk rakyat ‎dengan menaikan cukai 7 %, di tengah kelesuan industri sebagai dampak melemahnya daya beli masyarakat. Selain memberatkan dunia usaha target ini diyakini tidak tercapai. Dalam perkiraan realisasi tahun 2015, pendapatan cukai ditargetkan mencapai Rp 145.739,9 miliar, lebih tinggi 23,4 % dari realisasinya pada tahun 2014. Sementara realisasi tahun 2015 ini tidak tercapai. 

Ambisi pemerintah untuk bagi-bagi mega proyek infrastruktur di antara ‎oligarki dalam pemerintahan telah dijadikan landasan kunci dalam APBN. Ini bukan tuduhan tidak beralasan karena hingga hari ini pemerintah tetap keukeuh dengan mega proyek listrik, tol, kereta cepat dan lain sebagainya.

Lebih parah lagi APBN dijadikan bancakan melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada BUMN senilai Rp. 48.2 triliun lebih. Padahal PMN dalam 2015 senilai 70 triliun rupiah telah memi‎cu kontroversi karena mencederai keadilan, tidak akuntabel dan tidak transparan.

Sisi lain, BUMN terus dikerahkan untuk memburu utang luar negeri, menjual sebagian besar saham publik BUMN ke pihak asing. Semestinya hanya BUMN yang 100 % sahamnya milik negara yang berhak mendapatkan PMN. Besar kemungkinan PMN ini akan menjadi strategi membentuk kembali share pemerintah di BUMN agar laku jual ke pasar keuangan internasional.

Pemerintah terus memangkas subsidi untuk rakyat, baik subsidi BBM, listrik, dan subsidi pertanian. Menghadapi liberalisasi ASEAN 2016, postur RAPBN ini akan sangat kontraproduktif dalam memperkuat daya saing nasional dan kemampuan kapasitas rakyat yang tengah terpuruk secara ekonomi.‎

Blunder lainnya dalam RAPBN 2016 adalah target Penerbitan SBN Netto dalam RAPBN tahun 2016 yang direncanakan sebesar Rp 326.271,2 miliar atau naik 9,6 % dibandingkan APBNP tahun 2015 sebesar Rp 297.698,4 miliar. Upaya pemenuhan target pembiayaan utang melalui penerbitan SBN (Netto) tahun 2016 akan dilakukan pemerintah dengan menerbitkan instrumen SBN domestik dan valas. Target ini selain tidak masuk akal di tengah pelemahan ekonomi global, juga akan semakin membebani utang pemerintah yang sudah lebih dari 3.000 triliun rupiah yang bersumber dari luar negeri dan SBN.

Secara keseluruhan, Postur RAPBN 2016 terlihat hanya untuk melegitimasi sikap ambisius liar Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla untuk bagi-bagi proyek infrastruktur yang dijamin APBN, yang jelas akan memberatkan dunia usaha dalam negeri dan akan semakin membebani rakyat. ‎

RAPBN ini akan semakin menjauhkan Pemerintahan Jokowi-JK dari cita cita Trisakti dan Nawacita. Pemerintah sama sekali tidak mau belajar. Pengalaman satu tahun yang berantakan mestinya menjadi alat evaluasi kritis. Pemerintah juga tidak mau jujur membuka data. DPR harus menunda pengesahan RAPBN dan mengkaji ulang seluruh strategi yang dibangun di dalam RAPBN 2016.

Jokowi Setahun, Terjepit Pembantu Autis dan Narsis


Oleh:
AMIR FAISAL
Ketua DPP Partai Hanura

Banyak kritik yang mengalir kepada Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla setelah setahun memimpin Indonesia. Ada nada pesimis, ada juga yang melontarkan macam-macam prasangka minor. Harus diakui, jika dilihat dari berbagai indikator, kinerja Pemerintahan Jokowi belum bisa memenuhi ekspektasi publik yang demikian besar.

Namun, semua pihak perlu tahu, saat Jokowi resmi dilantik memimpin Indonesia setahun lalu, daya saing Indonesia cukup lemah. Pengelolaan sumber daya negara sudah karut-marut, kapasitas fiskal nasional dalam posisi lemah dan isu korupsi sedemikian kuat merebak dari pusat hingga daerah.

Karena itu, untuk memperbaiki Indonesia, jelas memerlukan kerja keras. Tak aneh, jika Jokowi selalu mengajak masyarakat untuk kerja, kerja dan kerja sebagai jargonnya.

Gaya kepemimpinan Jokowi memang lain, tidak formalis dan protokoler, namun lebih menekankan banyaknya komunikasi langsung dengan masyarakat. Visi-misi yang dirumuskan dalam Trisakti dan Nawacita memang memberikan harapan besar bagi masa depan Indonesia, utamanya bagi kemandirian bangsa. Hanya saja, Jokowi harus menghadapi banyak tantangan ketika hendak mengimplementasikan program kerjanya.

Untuk memperbaiki Indonesia, Jokowi jelas perlu waktu untuk membenahi warisan pemerintahan lama. Harapan Jokowi ingin bisa bekerja dengan cepat sesuai visi-misinya. Tapi faktanya, banyak menteri-menterinya yang gagal menerjemahkan visi Nawacita dalam konsep dan program kerja di kementeriannya. Hal itu diperburuk adanya tarik-menarik kepentingan di kalangan elite politik. Sehingga wajar saja, jika dalam setahun ini banyak terjadi kegaduhan politik.  

Pandangan minus terhadap Pemerintahan Jokowi selama ini juga tak lepas dari perilaku buruk para pembantu Jokowi sendiri. Ironinya, para pembantu Jokowi ada menteri yang autis dan narsis. Dikatakan autis karena di antara menteri ada yang asyik dengan cara berpikir sendiri dan gagal menerjemahkan Nawacita yang sudah digariskan Jokowi.

Sementara ada juga menteri yang narsis lantaran cenderung lebih suka tampil di media massa ketimbang menyelesaikan substansi permasalahan di bidang kerjanya. Hasilnya, aksi-aksi mediatik para menteri hanya mampu memenuhi kuantitas penampakan, tapi gagal menyelesaikan persoalan yang substantif.

Kegaduhan politik yang terjadi dalam pemerintahannya selama setahun ini, setidaknya sudah memberikan referensi yang cukup kepada Jokowi untuk melakukan evaluasi total pada mesin kerja dalam kabinetnya. Momentum satu tahun ini tentunya menjadi waktu yang tepat untuk melakukan pembenahan dengan menggunakan parameter yang cerdas dan cermat. Dan jangan lagi menggunakan aksi-aksi mediatik sebagai paramater dalam menilai kinerja menterinya.

Kalau reshuffle menjadi pilihan, hal itu bisa dilakukan tanpa mempermalukan balik pada personal, partai atau para relawan pendukungnya. Jika ada menteri dari parpol tapi kinerjanya buruk dan perlu diganti, hal itu bisa dilakukan dengan alasan obyektif dan rasional. Kalau reshuffle harus ditempuh, saya yakin para pemimpin partai juga bisa menerima legowo bila komunikasi politik Jokowi berjalan dengan baik tanpa melupakan prinsip orang Jawa, “Mikul Dhuwur Mendem Jero."

Semoga saja, Presiden Jokowi bisa segera menemukan formulasi yang tepat dan dapat melakukan pembenahan total agar pemerintahannya dapat mewujudkan visi-misi yang dikampanyekan menjelang Pilpres 2014 lalu.

Senin, 19 Oktober 2015

HKBP Distrik VIII jadi Panitia Pelaksana Sidang Ke-7 PGIW Jakarta

Pdt. Colan Pakpahan Ketua Panitia Pelaksana Sidang Wilayah 7 PGIW Jakarta / TN 
JAKARTA, TEGARNEWS.com - PGI Wilayah (PGIW) adalah persekutuan gereja yang dibentuk dan didukung oleh gereja-gereja dan atau jemaat yang berada di wilayah tersebut dan di sahkan oleh Majelis Pekerja Lengkap (MPL) PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia).

PGIW DKI Jakarta pada tanggal 17 – 21 November 2015 di Hotel The Radiant, Lembang, Jawa Barat, akan melakukan Sidang Wilayah (SW) ke-7. Saat ini beranggotakan 65 denominasi gereja dan 21 Persekutuan Oikoumene (POUK). Tujuan persidangan adalah untuk Evaluasi, Pembahasan kehidupan gerejawi, Pembahasan Program, Pemyempurnaan Tata Kerja dan Ketentuan PGIW DKI Jakarta, Pembahasan dan Penyempurnaan Program Kerja 5 tahun mendatang, Memilih dan Menetapkan fungsionaris (MPL,MPH, BPP, dan MP) untuk periode 2015 – 2020. 

Perhelatan ini disampaikan PGIW DKI Jakarta saat Konferensi Pers Sabtu (17/10) di Resto Talk 2 Jakarta Timur Panitia Pelaksana SW Ketujuh yang ditetapkan adalah Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Distrik VIII Jakarta, sebagai ketua Pdt. Colan Pakpahan dan Pdt. Haposan Sianturi serta anggotanya dari HKBP Resort Jatinegara Jakarta Timur.

Persidangan rencananya akan dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama,ungkap Manuel Raintung, Sekum PGIW Jakarta. Surat permohonan Audiensi PGIW kepada Gubernur sudah dikirimkan namun hingga Sabtu (17/10) dan sampai berita ini diturunkan belum ada jawaban. “ PGIW Jakarta berharap melalui pemberitaan informasi pelaksanaan sidang ketujuh dapat diketahui anggotanya dan umat Kristen pada umumnya”, jelas sekum PGIW Jakarta.

( Moko / Budi )

Sabtu, 17 Oktober 2015

I-Doser, Narkoba Digital?


Oleh:
Kombes (Pol) Drs. Sumirat Dwiyanto, M.Si. *


Baru-baru ini masyarakat dikejutkan dengan munculnya sebuah aplikasi berbasis teknologi audio yang dapat diunduh secara bebas melalui internet, bernama I-Doser, yang juga disebut sebagai narkoba dalam bentuk digital.

Dari pemberitaan yang beredar di media sosial, banyak anak remaja yang merasakan sensasi memakai narkoba setelah mendengarkan konten berupa binaural (dua suara) berdurasi 30-40 menit melalui aplikasi tersebut.

Binaural merupakan sebuah teknologi yang diklaim dapat menstimulasi otak dan merubah keadaan psikis dan mental. Namun, para peneliti dari berbagai universitas tidak menemukan perubahan pola otak pada pengguna I-Doser.

Tak dapat dipungkiri, suara, nyanyian, atau gelombang suara dalam ritmik tertentu mampu mempengaruhi emosional manusia. Seseorang yang mendengarkan sebuah lagu dapat merasakan ketenangan dalam dirinya atau bahkan menjadi gundah dan gelisah, bergantung pada jenis musik apa yang didengarkan. Hal ini dikarenakan gelombang suara merangsang sel-sel saraf dan menghantarkannya ke otak.

Menanggapi isu tersebut, Badan Narkotika Nasional (BNN) menegaskan bahwa I-Doser tidak termasuk dalam golongan narkotika.

Dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 disebutkan bahwa narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Oleh karena itu, meskipun gelombang suara yang dihasilkan oleh I-Doser diklaim dapat memberikan sensasi seperti memakai narkoba oleh pendengarnya, I-Doser tidak termasuk dalam golongan narkotika.

* Kepala Badan Narkotika Nasional  (BNN) Provinsi Sulawesi Utara

Rabu, 14 Oktober 2015

Pilihan Kata Kta Dalam Surat Lamaran Kerja

Ilustrasi Surat Lamaran Kerja / TN
TEGARNEWS.com - Anda harus mempersiapkan sebuah surat lamaran kerja secara seksama. Banyak orang yang memiliki kualitas individu yang baik gagal dalam mendapatkan pekerjaan impiannya hanya karena kesalahan kecil yang ada pada surat lamaran kerja. Apa saja yang perlu Anda perhatikan untuk menghindarinya?

Pilihan kata-kata yang Anda masukkan dalam surat lamaran pekerjaan dapat menunjukkan pribadi Anda sejak awal. Menurut sebuah riset yang dilakukan oleh situs lowongan pekerjaan terbesar di dunia, LinkedIn, kata-kata yang amat umum digunakan oleh para pelamar pekerjaan adalah sebagai berikut:

1. Responsible (bertanggung jawab)
2. Strategic (strategis)
3. Creative (kreatif)
4. Effective (efektif)
5. Patient (sabar)
6. Expert (ahli di bidangnya)
7. Organizational (teratur)
8. Driven (bisa dipimpin)
9. Innovative (inovatif)
10. Analytical (berkemampuan analisis)

Kemudian, LinkedIn juga menemukan bahwa banyak perusahaan menolak sebagian besar pelamarnya karena menggunakan 10 kata-kata di atas. Alasannya, sudah terlalu banyak orang yang memakai kata-kata tersebut dalam surat lamaran pekerjaan, dan perusahaan mencari karyawan yang ‘tidak pasaran’.

Menurut salah satu konsultan LinkedIn, Nicole Williams, para pencari kerja di luar sana harus menunjukkan kelebihan apa yang mereka miliki sejak dari awal melamar kerja. Caranya? Carilah padanan kata yang lebih jarang dipakai orang-orang pada umumnya untuk mendeskripsikan maksud dari 10 kata-kata di atas. Atau, Anda juga bisa memilih alternatif lain dengan menggambarkan 10 kualitas individu di atas dengan gambar-gambar kreatif atau foto diri Anda.


Sumber: LinkedIn
Editor: SB Budi W

Selasa, 13 Oktober 2015

Lupakan Jokowi, Inilah Lima Capres Masa Depan Indonesia


Satu tahun sudah Pak Jokowi memerintah, satu tahun pula usia Pak Prabowo bertambah. Apa kabar kuda-kuda Pak Prabowo? Bagaimana pula cerita dari kodok-kodok Pak Jokowi? 

Yoi, Bray, sudah setahun sejak Jokowi memindahkan koleksi kodok-kodoknya ke Istana Negara. Berarti sudah setahun lebih keriuhan pemilu, yang ditengarai sebagai pemilu terlama di dunia ini, berlalu. Bagaimana tidak, lha wong setelah satu tahun dihelat, suasana kampanyenya masih begitu terasa, terutama di media sosial, lebih khusus lagi di dinding fesbuk Abangda Jonru. 

Beberapa orang bahkan dengan lebay menyebut bahwa Indonesia 2014 sangat mirip dengan Indonesia 1965. Mendaur ulang kata-kata Mahfud Ikhwan yang juga dikutip Iqbal Aji Daryono ketika membahas soal PKI, “sejak 2014, buat pendukung Jokowi, sejarah dituliskan oleh Jokowi kecuali yang jelek-jelek; sementara buat pendukung Prabowo –atau sederhananya, pengikut Jonru–, sejarah memang ditulis oleh Jokowi, kecuali yang bagus-bagus.”

Usaha apa pun untuk memberi penilaian pada pemerintahan Jokowi, brengseknya, akan terjebak pada dikotomi ini. Memuji prestasi Jokowi dianggap Jokower, mengkritisi kebijakannya dituduh Prabower atau Jonruer. Uniknya, kedua pihak ini kemudian ngeles dengan cara yang sama, dengan mencari sosok idola baru.

Syaratnya ada tiga: presiden, berprestasi warbiyasa, dan bukan orang Indonesia.

Daripada dituduh ini-itu, maka sebaiknya kita semua move-on saja, melupakan Jokowi, dan memikirkan pemilu yang akan datang. Walaupun ada ungkapan yang mengatakan bahwa “negarawan memikirkan generasi berikutnya sementara politikus memikirkan pemilu yang akan datang”, tapi kalau tidak direncanakan dengan matang, Indonesia di tahun 2019 bisa jadi seperti yang ditakutkan orang banyak. Seperti sinetron Tukang Bubur Naik Haji yang sudah tidak ada tukang buburnya, Indonesia 2019 bisa benar-benar menjadi seperti Indonesia 1965, seperti zaman PKI, minus PKI tentu saja. Lha wong sudah lama bubar.

Jadi, saya rangkum lima kandidat capres yang kurang-lebih disukai baik oleh Jokower maupun Prabower atau Jonruer. Lupakan tokoh-tokoh tua seperti Surya Paloh, Aburizal Bakrie, Megawati, atau bahkan Prabowo. Lupakan juga tokoh-tokoh muda penuh harapan seperti Ahok yang rajin nguras sungai-sungai di Jakarta, Ridwan Kamil yang keranjingan bikin taman di Bandung, atau Tri Risma yang suka menanam bunga dan menutup Gang Dolly. Persaingan bintang-bintang politik Indonesia inilah yang justru bisa menggiring kita gagal move-on dari pemilu seperti sekarang.

Dan inilah kelima capres usulan saya, sekaligus idola para pegiat media sosial:

1. Mahmoud Ahmadinejad

Mas Mahmoud sudah tersohor sebagai aktivis anti-Amerika. Kita bisa menambahkan Yahudi, illuminati, sekularisme, pluralisme, liberalisme, dan sebagainya, tapi satu kata ‘Amerika’ itu saja rasanya sudah mewakili semuanya. Inilah presiden idaman seluruh rakyat Indonesia yang merindukan pemimpin yang tidak mudah didikte oleh asing dan aseng. Di tangannya, saya yakin kontrak kerja Freeport juga akan langsung ditinjau ulang di hari pertamanya menjabat.

Nilai plus lain adalah kesederhanaannya. Siapa yang tidak terpesona dengan kemeja robek dan sepatu bututnya? Alih-alih menyebutnya ndeso atau bikin malu negara, orang menyebutnya sebagai ‘presiden yang asli merakyat’. Kebijakannya yang mengubah pesawat terbang kepresidenan menjadi pesawat kargo, dan hanya mau terbang dengan pesawat kelas ekonomi, juga asli datang dari lubuk hatinya, bukan pencitraan. Tidak mungkin Mas Mahmoud ini mau naik pesawat kepresidenan khusus, sekalipun dengan dalih pesawat tersebut sudah dibeli oleh pendahulunya.

Kekurangan Mas Mahmoud ini cuma satu: Syiah.

Tidak perlu membangkitkan harian Obor Rakyat untuk menyerang Mas Mahmoud sebagai Syiah. Tagar #SyiahbukanIslam pun saya yakin akan nangkring bertahun-tahun sebagai trending topic di media sosial. Tapi menangkal ini gampang kok, bagikan saja foto-foto Mas Mahmoud ketika menunaikan ibadah haji disertai pertanyaan retoris ‘kalau bukan Islam kenapa boleh naik haji?’. Kali ini saya yakin ihramnya tidak akan terbalik. 

Di sisi lain, status Syiah-nya justru sangat mungkin mendorong Mas Mahmoud menyelesaikan kemelut pengungsi Syiah di Sampang yang berlarut-larut. Lebih baik lagi kalau bisa merembet menuntaskan kasus GKI Yasmin, menyeret pembunuh Munir dan wartawan Udin, atau sekalian menemukan Wiji Thukul. Soal dukungan partai, saya rasa partai-partai Islam tidak akan berani secara terbuka mendukung beliau, kecuali PKB. Menyokong tokoh kontroversial sepertinya adalah keahlian partai ini, sebut saja nama Muhaimin atau Rhoma Irama yang pernah diajukan sebagai capres, walaupun gak jadi dan mendorong Bang Haji bikin partai sendiri.

Terlepas dari semua itu, fakta bahwa Mas Mahmoud seorang Syiah membuat Abangnda Jonru terpaksa harus memperpanjang masa jabatan kritikus presidennya selama lima tahun lagi. 

2. Recep Tayyip Erdogan

Kalau ada tokoh Islam yang begitu dielu-elukan di media sosial belakangan ini, maka Erdoganlah orangnya. Nama Bang Tayyip meroket seiring dengan merebaknya sinetron Shehrajat, eh, maksud saya; krisis pengungsi Rohingya dari Myanmar.

Adalah kapal-kapal angkatan laut Turki yang konon dikirim Bang Tayyip ke perairan Aceh untuk menyelamatkan para pengungsi. Sikap yang jauh berbeda dengan yang diambil Moeldoko, jenderal dengan arloji KW itu. Ditambah cucuran air mata sang ibu negara ketika mengunjungi Rohingya, mau tidak mau nama Bang Tayyip semakin harum di mata ikhwan dan akhwat PKS.

Dukungan dari partai-partai Islam saya yakin akan segera digenggam Bang Tayyip seandainya beliau sudi berhenti jadi presiden Turki dan nyapres di sini. Dimotori oleh PKS, partai-partai seperti PPP, PBB, bahkan PAN sekalipun, saya yakin akan segera merapatkan barisan. Tuduhan bahwa Bang Tayyip tidak pro penegakan HAM, hobi memenjarakan orang yang tidak sependapat dengannya, paling-paling hanya akan dinyinyiri oleh para penulis Mojok. Tapi mereka bisa apa, sih?

Lagipula, pasal penghinaan presiden kan dihidupkan lagi oleh Jokowi. Bang Tayyip bisa berlindung di balik pasal tersebut, dan bisa menyalahkan presiden sebelumnya. Persis seperti para pembantu Jokowi yang suka menyebut nama SBY kalau tertimpa masalah.

3. Jose Mujica

Presiden pro-rakyat, merakyat, dan sederhana –nyaris miskin– sepertinya akan tetap menjadi jargon paling laris semua pemilu sampai kiamat. Dan untuk urusan itu, Papa Jose adalah jawaranya.

Mobilnya masih Volkswagen Beetle produksi tahun 1987, tinggal di rumah sederhana berdua bersama istrinya, bahkan mendonasikan 90% gajinya sebagai presiden kepada kaum papa. Benar-benar kandidat capres idola partai wong cilik, PDI-P. Melihat pilihan kendaraan Papa Jose, mobil Esemka bisa kembali naik daun, bukan sekadar jadi kendaraan politik pencitraan.

Papa Jose bisa dijadikan alternatif oleh PDI-P seandainya Jokowi tidak lagi loyal kepada partai. 
Kalau Jokowi, misalnya, sampai berani mengganti Mbak Puan sebagai Menko.

Kendalanya cuma satu, Papa Jose sudah terlalu uzur, umurnya sudah 80. Tapi jangan khawatir, PDI-P juga sudah lama tidak mengganti ketua partai, yang menjadikan Megawati sebagai ketua partai tertua di Indonesia. Makin tua makin putih moncongnya, mungkin ini bisa dipertimbangkan jadi jargon baru PDI-P.

Nilai tambah Papa Jose, mungkin, adalah sikap antinya pada rokok dan tembakau. Tidak tanggung-tanggung, Papa Jose yang mantan perokok ini pernah menyebut bahwa tembakau adalah pembunuh dan peredarannya harus dikontrol. Sikapnya ini bisa menarik simpati para pegiat antirokok di negeri ini, selain mencegah dosa tak termaafkan Menteri Sosial Khofifah yang membagikan rokok kepada Suku Anak Dalam terulang kembali.

Tapi, ya itu, Papa Jose harus siap berhadapan dengan Pemimpin Besar Jokower Cabang Australia: Iqbal Aji Daryono.

4. Vladimir Putin

Bintang lain yang tidak boleh tidak disebut adalah Kamerad Vladimir Vladimirovich Putin.

Nama Abang Putin baru-baru ini meroket setelah memborbardir ISIS di Suriah, hal yang tidak bisa dilakukan Obama Si Anak Menteng.

Imej Abang Putin yang macho, ditambah latar belakangnya sebagai mantan agen KGB dengan pangkat terakhir letnan kolonel, akan mampu mewadahi aspirasi sebagian masyarakat kita yang belum bisa move-on dari pengandaian bahwa negara yang baik adalah negara yang sekaku barisan tentara.

Abang Putin adalah pengejawantahan dari jargon ‘kepemimpinan adalah ketegasan tanpa ragu’. Itu pengusaha sawit yang membakar hutan dan bikin kabut asap tiap tahun bisa kalang kabut kalau sampai Abang Putin meninjau langsung lokasi kebakaran tanpa masker sambil menunggangi beruang.

Abang Putin adalah macan yang lebih macan daripada Pak Prabowo dan akan membuat macan Asia kembali mengaum. Bahkan kambing pun bisa dibuatnya mengaum. Dengan begitu, mudah ditebak kalau Abang Putin akan langsung didukung oleh partai-partai mantan jenderal seperti Gerindra, Demokrat, PKPI, dan Hanura. Sekaligus mempersatukan pensiunan-pensiunan jenderal yang tercerai-berai itu pasca pemilu 2014.

Satu hal yang pasti, Abang Putin bisa mengajari Pak Prabowo cara naik kuda yang baik dan benar untuk lebih memancarkan aura maskulin (dengan telanjang dada, Pak Prab, bukan dengan seragam paskibra). 

Satu-satunya hal yang mungkin bisa mengganjal Bang Putin adalah isu komunisme, entah itu sebagai agen, simpatisan, atau sekadar keturunan komunis. Mungkin Musso atau Alimin pernah kepincut cewek Rusia sebelumnya, kita tidak tahu. 

Tapi Bang Putin bisa membela diri kalau komunisme di Rusia sudah bangkrut, bahkan bendera Rusia sudah gak ada palu aritnya. Bendera Rusia sekarang cuma tiga warna: putih, biru, dan merah. (Lah, kok malah kayak Belanda?)

5. Donald Trump

Tidak sah rasanya kalau tidak menyebut nama Donald John Trump. Tuan Trump sudah didekati dari jauh-jauh hari oleh pejabat teras Partai Golkar, Setya Novanto. Bahkan Setya berani menjanjikan bahwa Tuan Trump disukai di Indonesia. Bukan sekadar disukai, tapi ‘highly’ disukai.

Walaupun Golkar sudah punya tradisi konvensi untuk menentukan ketua partai atau capresnya, tapi saya rasa ini bukan perkara sulit buat Tuan Trump. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana Setya yang melingkari tangannya dengan arloji seharga 2 M saja bisa dibuat manggut-manggut di hadapan Tuan Trump. Aburizal Bakrie atau Jusuf Kalla jelas bukan tandingan Tuan Trump, apatah lagi Surya Paloh yang kalah melulu di konvensi.

Keuntungan lain kalau Tuan Trump berhasil digaet Golkar adalah kemungkinan hijrahnya pentolan Partai Gerindra, Fadli Zon, ke Golkar. Ini bukan main-main. Fadli Zon adalah tokoh yang dikenal mampu meramal arah angin masa depan perpolitikan Indonesia. Sungguh sebuah keberuntungan bagi Golkar kalau sampai Fadli Zon benar-benar hijrah dari Gerindra.

Dengan Tuan Trump, rupiah pasti bisa lebih kuat terhadap dolar. Nilai tukarnya bisa stabil dan gak bikin kebat-kebit pebisnis nasional. Malah bisa meroket kalau semua bisnis Tuan Trump dijalankan menggunakan rupiah. Tidak perlu nunggu sampai Oktober. Dan tanpa adanya imigran hispanik di sini, ini bisa jadi win-win solution baik bagi Golkar maupun Tuan Trump. 

Yang satu butuh figur kuat untuk dicapreskan, satu lagi butuh partai buat nyapres.

Tapi bagaimana dengan sikap Tuan Trump yang disebut-sebut anti-Islam?

Tenang saja, kan masih ada Abangnda Jonru, penulis fenomenal, maskot Mojok, sekaligus pembela Islam garda terdepan.

PENULIS: CEPI SABRE

SUMBER: Mojok.co

Senin, 12 Oktober 2015

Fenomena Kemiskinan Hayati

Ilustrasi / Foto. TN

JAKARTA, TEGARNEWS.com - lingkungan hutan kita berstatus kritis karena kebakaran hutan yang bersifat kompleks. Hutan dengan kekayaan hayati ketika terbakar akan berubah statusnya menjadi miskin hayati.

Di Barat Indonesia, hutan-hutan melentang besar bagaikan taman Amazon. Di perairan pulau Sumatera dan Kalimantan, pohon-pohon rindang memenuhi bumi Indonesia. Hutan itu tumbuh besar dan mewarnai tanah leluhur. 

Kebakaran akan memutus dinamika genetic drift dan genetic flow sebagai prasyarat kekayaan hayati. Kondisi seperti ini memunculkan fenomena kemiskinan hayati yang mengarah kehomogenitas jenis sehingga keseimbangan dan stabilitas ekosistem terganggu.

Hal terpenting yang harus disadari pemerintah saat ini adalah menjadikan momentum kebakaran hutan sebagai baseline agar tahun depan penanganan pelestarian hutan jauh lebih baik.

Pemegang hak pengusahaan hutan (HPH) maupun perkebunan sawit harus membuat surat keterangan berkomitmen menjaga lahan dan betanggung jawab penuh ketika lahan terbakar, termasuk siap menanggung implikasi hukum.

Integrasi data geographic information system (GIS) dalam menentukan koordinat kebakaran berbasis dokumen izin HPH menjamin akurasi penanganan dan penanggulangan kebakaran hutan secara cepat, akurat dan tepat.

Editor: SB Budi W

Selasa, 06 Oktober 2015

Kekuatan dan Korupsi

budi tea
Ilustrasi Kekuatan dan Korupsi / tegarnews.com
Oleh :
SB BUDI W
Pimpinan Redaksi Tegar News

Seberapa sering apakah benar bahwa 'kekuatan', baik itu dalam bentuk apapun, merupakan tiket masuk untuk korupsi di masyarakat kita? Jawabannya adalah jelas, 'hampir setiap saat'.

Masing-masing dan setiap negara telah mendapat contoh yang cukup, penguasa dan administrator yang tidak pernah ragu-ragu untuk menggunakan kekuatan mereka untuk kejam menjarah kekayaan umum dan licik menguras roh jujur ​​dari orang bahkan dengan menegakkan teror.

Di balik setiap tindakan menghancurkan dunia telah melihat, ada semacam kekuatan rusak. Namun kekuatan seperti yang dilihat oleh masyarakat sebagai hal yang tidak dapat dihindari untuk keberadaan. Kekuasaan memang merupakan tulang punggung layanan sipil.

Kekuasaan politik adalah pilar tegaknya pemerintahan dunia. Kekuasaan agama adalah apa yang mendefinisikan nilai-nilai kehidupan. Karena aspek-aspek utilitas yang tampaknya di banyak kekuasaan, diasumsikan sebagai kebajikan oleh masyarakat.

Tapi kapan dan bagaimana kekuasaan mulai menunjukkan permusuhan nya? Baik itu dalam demokrasi atau otokrasi, daya rusak historis. Dan itu hanya menunjukkan kegagalan sistem kegagalan pemilu yang demokratis, kantor birokrasi, penilaian pengadilan atau apa pun itu.

Apa obatnya? Meskipun mungkin tidak ada solusi tunggal, salah satu fokus terutama dalam sistem demokrasi harus pada pemberdayaan dan mendidik orang untuk memilih dengan bijak ketika mereka mendelegasikan kekuasaan mereka sendiri untuk wakil-wakil mereka.

Ketika keadilan tidak dilayani oleh kuat, sistem mulai memburuk. Korup kuasa, kalau tidak berpengalaman, tidak berpendidikan dan tidak bertanggung jawab dalam kursi. Ini yang dapat dikaitkan dengan banyak alasan, karena kekurangan dari sistem atau hanya nasib memerintah atau sesuatu yang lain.

Korupsi di sistem melambat hanya ketika kekuasaan berarti kesempatan untuk melayani dengan keadilan, dalam semua arti. Berharap masyarakat kita mencapai keadaan seperti itu.


Minggu, 04 Oktober 2015

Hukuman Mati Koruptor di Tiongkok

Eksekusi mati (foto: theatlantic.com)

JAKARTA, TEGARNEWS.com - Menurut data dari Amnesty International, Negara Tiongkok menghukum mati ribuan koruptor setiap tahunnya. Tiongkok juga diakui dunia sebagai negara terbaik dalam pemberantasan korupsi.

Ini video saat eksekusi tembak mati terhadap mantan Menteri Perkeretaapian, Liu Zhijun. Liu dihukum mati karena menerima sejumlah suap.

Eksekusi terhadap Liu Zhijun dilakukan ketika Presiden Xi Jinping berkuasa di Tiongkok. Dan diketahui ternyata Liu sudah melakukan korupsi sebelum Xi Jinping menjadi presiden.

Beda dengan dengan di negara kita ya? para koruptor hanya dipenjara. Berikut ini bagaimana seremnya video eksekusi mati terhadap koruptor di Tiongkok.


EDITOR: SB BUDI W

Sabtu, 26 September 2015

Mahasiswa Lampung Peringati Tragedi UBL Berdarah

Panelis Peringatan  Aksi UBL / tegarnews
LAMPUNG, TEGARNEWS.com - Peringatan UBL berdarah yang selalu diperingati setiap tanggal 28 September kali ini menghadirkan Salah satu pelaku sejarah Tragedi Demontrasi mahasiswa Yang berujung maut, yakni Agus Rihat P. Manalu yang saat itu berperan sebagai korlap aksi.

"Tragedi UBL berdarah adalah sebuah sejarah gerakan mahasiswa yang progresif, mengingat saat itu issue yang di usung adalah tentang penghapusan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB)" ungkapnya di sela-sela diskusi.

Agus rihat juga menuturkan bahwa tragedi UBL berdarah bukanlah sebuah gerakan, melainkan aksi massa spontan yang murni untuk menolak UU BKP, "gak pas disebut sebagai gerakan, karena kita bergerak tidak hanya di tanggal 28 september 1999, tapi masih banyak gerakan-gerakan kita diluar itu" ungkap advokat yang juga alumni Hukum Unila tersebut.

Agus Rihat jug berpesan kepada Mahasiswa agar tidak hanya bergerak ketika memperingati tragedi momentumal, tapi juga harus peka pada persoalan-persoalan bangsa yang lain, "bergerak tidak hanya sekedar ketika melakukan peringatan, tetapi harus juga kritis menyikapi problem-problem kebangsaan yang menanti untuk segera direspon oleh mahasiswa sebagai sektor yang dinilai paling idealis saat ini" pesana Lawyer yang tengah menangani kasus Gugatan Class Action menggugat Gubernur Lampung tersebut.

Di sisi lain, Ketua Eksekutif Wilayah LMND Lampung, Rismayanti Borthon menjelaskan jika tragedi UBL berdarah bukan hanya diperingati sebagai seremonial, melainkan harus menjadi barometer gerakan mahasiswa di Lampung, "ini adalah tragedi yang bisa menjadi tolak ukur bahwa gerakan Mahasiswa di Lampung pernah mencapai titik progresifitas yang tinggi dan ini yang harus diteruskan oleh gerakan mahasiswa sekarang" ungkap Mahasiswi Pertanian Unila tersebut.

Dalam diskusi tersebut juga dihadiri panelis lainnya yakni, Abi Hasan Muan dari Peradi, Wahyu Sasongko dari akademisi Hukum Unila dan Wahrul Fauzi Silalahi dari LBH bandar Lampung.

Diskusi yang dilaksanakan di belakang gedung rektorat universitas lampung ini dihadiri puluhan aliansi mahasiswa dari berbagai organ, diantaranya LMND, Teknokra, UKMBS UBL, Walhi, LBH bandar Lampung, AJI Bandar Lampung, PMKRI dll.

Rep. Noval HF
Edt. SB Budi W

Sabtu, 19 September 2015

Sejarah dan Sabar

Ilustrasi / tegarnews.com

JAKARTA, TEGARNEWS.com - Sejarah negeri ini, apa boleh buat, memang dibayang-bayangi prasangka yang penilaiannya berangkat dari hal-hal yang tampak. Maka ketika ternyata ada hal lain di balik itu, dan kemudian terkuak pula, keterkejutan dengan sangat cepat berlanjut pada ledakan emosi berlebihan.

Hidup di Indonesia sungguh seru. Setiap hari ada saja kabar yang jadi perdebatan secara nasional. Perdebatan massal yang berlangsung di beragam medan, mulai dari warung kopi sampai dinding Twitter, Path, dan Facebook. Perdebatan yang membentuk kubu-kubu, yang dalam perkembangannya membuat banyak orang tertuduh sebagai bagian dari pasukan nasi bungkus, liberal, dan aneka cap-cap lain.

Saya teringat pada satu lelucon tentang seorang pertanyaan seorang wartawan pada seorang menteri tentang gulai kambing. Si wartawan bertanya apakah pak menteri menyukai gulai kambing, yang kemudian dijawab tidak pernah memakannya lagi karena menderita penyakit tekanan darah tinggi dan kolesterol.

Si wartawan menuliskannya dan media tempatnya bekerja memuat utuh hasil wawancaranya dan memberinya judul: “Darah Tinggi, Pak Menteri Berhenti Makan Gulai Kambing.”

Jika Anda mau menanggapi kejadian-kejadian itu silakan saja. Semua diizinkan. Itu hak asasi. Tapi kalau mau sabar, tentu lebih baik.

Saat merayakan ulang tahun pernikahan, seorang suami memberikan pujian kepada istrinya yang selama sepuluh tahun mendampinginya dengan sabar. Istrinya tidak pernah membalas saat dimarahi dan dibentak. Sang suami penasaran dan bertanya apa rahasia yang membuat istrinya begitu sangat sabar menghadapi dirinya ketika sedang marah.

Sambil tersenyum, sang istri mengatakan yang dilakukannya adalah menarik napas sambil membersihkan sepatu. Suami menyimpulkan bahwa membersihkan sepatu adalah terapi kesabaran istrinya. Dengan tenang, istrinya menjelaskan, “Iya, aku bersihkan sepatu dengan menggunakan sikat gigi kamu.”

Saya mengutip anekdot di atas dari Internet untuk menggambarkan bahwa tidak mudah menjalani sabar dengan ikhlas. Istri yang terkesan sangat sabar ternyata diam-diam dengan sabar melakukan aksi balas dendam.

Berhubung bulan Ramadan, saya tertarik menulis tentang sabar. Saya harus menulis tentang sabar ini dengan sabar supaya saya bisa menjelaskan dengan baik makna sabar. Saya pernah mencoba mencari tahu makna sabar dan menemukan banyak sekali definisi tentang makna sabar. Saya pun mencoba memahami satu per satu dengan sabar.

OLEH: MAS ISHARYANTO
EDITOR: SB BUDI W

Minggu, 13 September 2015

Ridho Ficardo, Pemimpin yang Menggugat Rakyatnya Sendiri


Oleh:
AGUS MULYADI

Tadinya saya berkeyakinan, bahwa insiden Setya Novanto-Fadli Zon-Donald Trump adalah titik puncak ke-wagu-an dan ke-asu-an khasanah politik tanah air. Namun ternyata, keyakinan saya akhirnya harus runtuh.

Setya Novanto mantap menjawab “Yes! Highly.” Ketika ditanya “Do they like me in Indonesia?” oleh Donald Trump. Kali lain, giliran Fadli Zon yang untuk gigi dengan memamerkan senyum Pepsodent-nya saat berselfie ria dengan mbak-mbak blondependukung Donald Trump.  

Memang masih ada yang lebih wagu?

Adalah Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung, Ridho Ficardo dan Bachtiar Basri, yang telah membuat keyakinan saya akan insiden tadi runtuh berkalang tanah. Lha betapa tidak, duo pemimpin Lampung ini menghebohkan jagad perpolitikan Indonesia karena berani menggugat rakyatnya sendiri senilai 50 miliar. 

Seperti yang diberitakan di Metrotvnews.com, Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung, Ridho Ficardo dan Bachtiar Basri, menggugat balik perwakilan rakyat Lampung yang menggugatnya dengan meminta ganti rugi materiil dan imateriil masing-masing senilai Rp25 miliar atau total Rp50 miliar.

Ini jelas sebuah tragedi politik yang sangat lucu (lagi wagu dan asu, tentunya). Bisa-bisanya seorang pemimpin menggugat warganya sendiri? Benar-benar raja tega. Wong Haji Muhidin yang sebegitu nyebelinnya saja belum tentu tega menggugat Rumana, je.

Kalau memang ndak mau digugat, lha mbok sedari awal ndak usah nyalon. Bagi seorang pemimpin, jangankan dituntut, lha wong ditipu sama rakyat sendiri saja harus ikhlas dan nrimo.

Pada dasarnya, yang namanya pemimpin itu kan harusnya punya tiga aji-aji, yaitu Rumongso, Lilo, dan Legowo. Rumongso, sadar diri akan kekurangan dan segala keterbatasannya dalam memimpin. Lilo, rela jika dicurhati dan dituntut oleh rakyat sendiri. Legowo, besar hati kalau memang harus turun dari tahta kepemimpinan.

Lha kalau baru dituntut rakyat saja sudah gerah dan malah ganti menyerang balik, gimana rakyat mau simpati? Ini rakyat, Bung, bukan Chelsea… tidak butuh serangan balik.

Aduduuuh, kemarin-kemarin, Ketua dan Wakil Ketua DPR bikin geger dengan insiden selfie saat berkunjung ke Amerika sana, tak berselang lama, Anggota DPRD Riau sibuk “dolan” ke Norwegia saat jutaan rakyatnya berjuang melawan kabut asap, sekarang giliran Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung yang bikin sensasi dengan menggugat rakyatnya sendiri. Besok apa lagi?

Bah, entah mengapa, bayangan saya tentang Indonesia kok jadi agak mblabur kalau harus ingat sepak terjang pejabat-pejabat kita tadi.

Huft, tapi ya mau bagaimana lagi, lha wong sudah kejadian, anggap saja sebagai salah satu ke-khas-an dunia politik kita. Lagipula, sejujurnya, kadang kita memang membutuhkan politisi-politisi wagu macam nama-nama tadi. Karena di pundak merekalah kenyentrikan dan ketidakwarasan akan tetap dijunjung tinggi sebagaimana mestinya.

Ingat, mau jijik bagaimanapun juga, cacing tetaplah diperlukan, karena ia menjadi salah satu bagian yang menjaga keseimbangan ekosistem.

Seperti halnya anak TK yang hobi mewarnai, para politisi tanggung tadi juga ikut ambil peran yang vital dalam mewarnai Indonesia, sungguhpun hanya dengan warna-warna yang pucat lagi nge-dof.

Tapi tolong ya, pembaca yang budiman, sesebel-sebelnya sampeyan sama Fadli Zon cs, jangan sekali-kali menghujat mereka dengan makian yang menyakitkan seperti “Fadli Zon Goblok!”, “Setyo Novanto Pekok!”, dan lain sebagainya, karena resikonya besar, sampeyan bisa kena pidana. Minimal pidana “pencemaran nama baik”, maksimal pidana “membocorkan rahasia negara”

SUMBER: MOJOK.CO

Selasa, 08 September 2015

Peraturan untuk Dilanggar (?)

Merokok di area yang terlarang
JAKARTA, TEGARNEWS.com – Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali ditemukan peraturan peraturan. Di sekolah, tempat umum, jalan raya, dan kantor-kantor juga ada peraturan. Kehidupan berbangsa dan bernegara pun memiliki peraturan yang dikenal dengan peraturan perundang-undangan.

Bentuk peraturan itu ada dua, yaitu tertulis dan tidak tertulis. Peraturan tertulis adalah peraturan yang tertuang dalam teks. Pengumuman dan peringatan pada tempat-tempat yang disebutkan di atas termasuk peraturan tertulis. Sedangkan peraturan tak tertulis adalah kebiasaan atau tradisi yang bersifat konvensi (kesepakatan).

Biasanya setiap peraturan itu pasti diiringi dengan sanksi atau hukuman. Yang melanggar aturan akan mendapat sanksi atau hukuman tertentu. Apakah semua peraturan itu untuk dilanggar? Yang benarnya, peraturan itu untuk ditaati dan dipatuhi. Peraturan itu dibuat untuk mengatur prilaku dan kegiatan manusia pada suatu komunitas tertentu agar sesuai dengan norma yang berlaku di tempat itu.

Angkutan umum yang parkir di tempat dilarang berhenti
Apakah peraturan itu dibuat karena manusia memang susah diatur? Suka berbuat dan bertindak sesuka hati? Entahlah!

Peraturan lalu lintas dibuat untuk mengatur lalu lintas di jalan raya supaya pengguna jalan raya tertib. Jika tidak mematuhi aturan lalu lintas akan menimbulkan kecelakaan atau hal lain yang tidak diinginkan. Peraturan dan tata tertib di sekolah berguna untuk mengatur seluruh aktivitas komunitas sekolah sesuai tugas dan fungsinya masing-masing.

Mengapa terjadi pelanggaran terhadap peraturan? Ada dua alasan pokok yang jadi penyebabnya:

1.Kurangnya sosialisasi atau pemasyarakatannya.
Peraturan yang ada perlu disosialisasikan kepada semua pengguna peraturan itu. Sejauh mana pemahaman terhadap peraturan yang disosialisasikan akan menentukan kuantitas pelanggaran.

2.Kurangnya kesadaran pribadi.
Pelanggaran terhadap peraturan yang ada berawal dari kurangnya kesadaran pribadi. Bahwa peraturan dibuat bukan untuk dilanggar. Peraturan itu mengatur prilaku manusia dalam suatu komunitas dan bermanfaat untuk komunitas itu sendiri.

Melanggar peraturan dengan sengaja bukanlah budaya bangsa. Bangsa Indonesia mendidik untuk mentaati peraturan. Mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat. Kalau begitu, peraturan bukan untuk dilanggar!

EDITOR: SB BUDI W

Komitmen Kerja Keras dan Cerdas

Wiwiek Dianawati Santoso
JAKARTA,TEGARNEWS.com -  Pertama bertemu dengan perempuan ini, kesan yang muncul ramah, tetapi tegas. Kenapa saya sebut tegas, karena perempuan bernama lengkap Wiwiek Dianawati Santoso bisa dibilang mungkin tidaklah sepenuhnya perempuan.

Jabatannya sebagai Direktur Utama PT Marga Mandala Sakti membuatnya menjadi salah satu orang yang berkecimpung di dunia yang lebih banyak digeluti kaum pria itu. Sejak 2008, Wiwiek memang ditugaskan oleh presiden direktur PT Astra International untuk menangani MMS, anak perusahaan Astra yang bergerak di bidang infrastruktur jalan tol. Sejak saat itu, Wiwiek setiap harinya disibukkan dengan kegiatan di seputar jalan tol Tangerang-Merak itu.

Menurut Wiwiek, hal itu tidaklah menjadi persoalan. Toh, selama ini pekerjaan yang digelutinya sebelum masuk MMS sangat identik dengan dunia pria. Wiwiek mengaku industri tol ini merupakan hal yang baru baginya, sehingga menantangnya untuk belajar dan menggali wawasan baru. "Kebetulan saya hampir selalu bekerja di industri ini yang didominasi pria, seperti otomotif. Jadi buat saya hal ini sudah biasa dan saya berpikir selama kita mau belajar dan mampu maka pekerjaan baru apapun dapat kita hadapi," tuturnya.

Meski hidup di dunia laki-laki dan harus turun meninjau ke lapangan secara langsung, tetapi penampilan Wiwiek tetaplah anggun seperti perempuan pada umumnya. Wiwiek juga mengaku tidak merasa gentar harus menjalani profesinya saat ini. Meski identik dengan dunia pria, dia mengatakan itu bukanlah hal berat karena pada dasarnya tidak ada pekerjaan yang identik dengan dunia perempuan atau pria.

Menurutnya, pada kenyataannya Tuhan menciptakan pria dan wanita dengan kodrat masing-masing tetapi dalam manusia justru mengkotak-kotakkan jenis pekerjaan. "Saya percaya bahwa dalam bekerja yang harus dinilai adalah kompetensi dan minatnya, bukan lagi stereotip gendernya. Bagi saya ketika diberi tanggung jawab untuk mengemban tugas maka harus menerima itu sebagai sebuah komitmen yang harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya," katanya.

Guna menunjukkan kemampuannya, ketika pertama bertugas, dia bekerja keras untuk menyerap semua informasi, pengetahuan, dan wawasan mengenai industri ini. Dia pun bertekad untuk mewujudkan keinginannya membangun jalan tol yang lancar, aman, dan nyaman untuk pengguna.

Hasilnya, dia mengaku dari apa yang telah dilakukannya sejak 2008, saat ini sudah menunjukkan kemajuan cukup signifikan, meskipun bukan berarti dia sudah puas mengingat impiannya mewujudkan visi melayani jalan tol dengan reputasi terbaik harus diwujudkan. Karena itulah dia tidak akan berhenti berusaha.

Tujuh tahun memimpin MMS, dia mengaku banyak suka duka yang dialaminya. Salah satu momen yang disukainya adalah apa yang telah diperjuangkan dirinya dan timnya sejak awal bergabung telah membuahkan hasil yang terbaik. Beberapa hal yang dilakukan adalah perwajahan baru MMS pada 2012, yang bertepatan dengan rekonstruksi perkerasan jalan, termasuk meluncurkan logo baru MMS, re-design Gerbang Tol, dan prestasi yang berhasil diraih oleh karyawan di MMS.

Namun, dia juga menyatakan kadang muncul rasa kurang menyenangkan dalam pekerjaan yang dilakoninya. Kejadian tidak menyenangkan itu a.l. musibah di jalan tol karena kurang antisipasi pengendara atau penduduk yang menyeberang jalan tol, dan bencana banjir yang mengakibatkan jalan tol ditutup karena warga sekitar mengungsi ke jalan.

Meskipun banyak suka duka yang dialaminya saat bekerja, perempuan asal Malang ini mengaku berusaha menjalani segala hal dengan hati ikhlas dan penuh rasa syukur, seraya memohon kepada Tuhan agar semuanya itu bermanfaat dan membawa kebaikan. Semua itu tidak lepas dari misi pribadinya agar industri jalan tol dapat tumbuh dan berkembang dengan pesat sehingga dapat bermanfaat dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan masyarakat. Selain itu, Wiwiek juga berharap apa yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi untuk membangun 1.000 km jalan tol sebelum 2019, dapat segera terwujud.

"Memang butuh komitmen juga kerja keras dan cerdas seluruh pemangku kepentingan, agar target yang realistis ini dapat terwujud. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia yang pertama kali membangun tol di tahun 1974, namun saat ini kita telah tertinggal jauh," tambahnya.

Wiwiek juga mengaku tidak punya target yang muluk dalam karirnya. Prinsipnya adalah dia selalu mensyukuri apapun yang Tuhan anugerahkan baik itu keluarga, pekerjaan, keberhasilan maupun kegagalan. “Kalau puas, kita mandeg,” tegasnya.

Di luar komitmennya dalam bekerja, Wiwiek juga tidak lupa mendedikasikan dirinya dan tidak melupakan kodratnya sebagai ibu rumah tangga. Termasuk melakukan hobi untuk dirinya sendiri. Membaca, travelling, dan main bersama cucu adalah aktivitas yang sering dilakukannya di waktu senggang.

Karena baginya, menyeimbangkan antara karir dan keluarga itu suatu tantangan tersendiri. Yang paling penting adalah dukungan keluarga, baik pasangan maupun anak-anak. Prioritas dan pengelolaan waktu mutlak harus dijalankan dengan disiplin. Yang tak kalah penting adalah komunikasi dan saling percaya baik di keluarga maupun perusahaan. Lakukan semua dengan hati yang ikhlas, pikiran positif.

EDITOR: SB BUDI W

Rabu, 02 September 2015

Ide Lama Dengan Semangat Baru Kemendikbud untuk Mencerdaskan Bangsa

Membaca di Perpustakaan  
JAKARTA, TEGARNEWS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan dan Menteri Kementerian dan Informatika Rudiantara mengumumkan sebuah program tablet pendidikan bernama “e-Sabak”. Inisiatif yang diluncurkan oleh Dirjen Pendidikan Dasar dan Dirjen Pendidikan Menengah bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta didukung oleh pihak swasta, yaitu PT. Telekomunikasi Indonesia, beberapa waktu lalu yang ditujukan untuk mengganti buku pelajaran ini ditargetkan dapat menjadi solusi sebagai salah satu sarana pembelajaran di daerah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T).

Program Tablet Pendidikan Adalah Ide Lama
Sebelum meluncurkan e-Sabak di tahun ini, di tahun 2011 lalu pemerintah bersama pihak swasta telah meluncurkan program serupa. Waktu itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan PT. Telekomunikasi Indonesia telah meluncurkan program SabakMoE (Sabak Ministry of Education) sebagai alat bantu proses pembelajaran bagi siswa yang terintegrasi dengan Learning Management System (LMS), yang berfungsi juga sebagai perangkat akses konten sumber belajar multimedia dan interaktif, perangkat akses ke sistem informasi pembelajaran, jadwal, silabus, kurikulum, tugas, penilaian, hasil penilaian, pelaporan hasil belajar, perangkat untuk berkomunikasi dan berkolaborasi. Namun demikian sebagai program percontohan nampaknya program SabakMoE ini tidak berlanjut. Di tahun-tahun belakangan ini pemanfaatan PC Tablet di kalangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan justru lebih banyak digunakan pada Sekolah Menengah Kejuruan dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Terbuka, namun belum masif untuk semua level pendidikan.

Sasaran di Daerah 3T, Tantangan Besar!
Program yang digadang-gadang akan menjadi solusi pengganti buku pelajaran yang diharapkan akan membantu pelajar di daerah terdepan, terluar dan terpencil (3T), khususnya di daerah perbatasan seperti di Kalimantan, Papua dan Nusa Tenggara agar bisa lebih mudah mendapatkan bahan ajar ini tentu memiliki potensi tantangan yang sangat besar mengingat minimnya infrastruktur komunikasi dan listrik di daerah-daerah tersebut belum lagi persoalan sumber daya manusia tentang penguasaan TIK di sana.

Di balik segala manfaat yang dijanjikan oleh pemerintah, implementasi program e-Sabak untuk daerah 3T tentu layak untuk diapresiasi sebagai inovasi dan lompatan pemanfaatan ICT untuk pendidikan. Namun demikian, penyediaan e-Sabak saja tentu bukan menjadi solusi ampuh untuk mengatasi masalah-masalah yang telah dipaparkan pemerintah dalam rilisnya. Sebagai bagian dari solusi pendidikan, selain tablet PC sebagai Devices, diperlukan unsur-unsur lain seperti Connectivity (infrastruktur jaringan komputer dan koneksi Internet), Software & Services (piranti lunak penunjang seperti Learning Management System, aplikasi perkantoran, parental control, anti-virus, berbagai aplikasi untuk pembelajaran serta konten-konten pembelajaran digital seperti buku elektronik, permainan interaktif, simulasi, dll) serta Professional Development yaitu program pengembangan profesional untuk meningkatkan kapasitas pengguna dalam pemanfaatan solusi ini lewat pelatihan sampai pendampingan.

Pengguna harus dapat menguasai keterampilan bagaimana menggunakan piranti ini dalam pembelajaran dan mampu melakukan pemeliharaan terhadap piranti-piranti yang nantinya akan diberikan. Tanpa itu semua, tanpa didukung oleh kebijakan pemerintah, tanpa komitmen untuk memanfaatkan dan menjaga keberlanjutan program, maka program ini tidak akan berhasil.


Hal ini sebenarnya telah disampaikan oleh PT. Telekomunikasi Indonesia melalui Direktur Enterprise dan Business Service PT Telkom, Muhammad Awaluddin yang mengatakan bahwa layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ini disediakan dalam satu paket layanan yang tidak terpisahkan yaitu perangkat, jaringan, dan aplikasi. Untuk jaringan akan disediakan tiga alternatif jaringan, yakni fixed line, 3G, dan satelit (VSAT).

Namun demikian, melihat realitas yang ada, jaringan yang akan disediakan pada daerah 3T tentu akan sangat berbeda kualitasnya dibanding dengan daerah perkotaan, yaitu dengan kecepatan yang terbatas, yang tidak mungkin digunakan oleh semua pengguna untuk mengakses Internet.

Untuk itu perlu dipikirkan alternatif pemanfaatan, untuk mengatasi keterbatasan koneksi Internet yang ada. Koneksi Internet yang terbatas via fixed line, 3G, dan satelit (VSAT) sebaiknya hanya dipergunakan oleh server di kelas/sekolah untuk meng-update konten yang tersimpan di cloud server Kemdikbud saja, dan akses siswa/guru untuk mengakses layanan dan konten tidak perlu langsung ke Internet namun hanya mengakses server sekolah. Solusi ini lebih realistis dibandingkan mengupayakan bandwidth yang besar, yang mencukupi jumlah device/pengguna ke sekolah-sekolah di daerah 3T.

Mubazir Jika Hanya Digunakan Sebagai Media Pengganti Buku Ajar Saja
Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, bahan ajar yang akan disematkan di dalam e-Sabak akan berbeda dengan Buku Sekolah Elektronik (BSE) melainkan lebih interaktif. Bahan ajar multimedia interaktif untuk komputasi mobile memang telah lama diproduksi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan via Pustekkom dengan programnya M-Edukasi. Saat ini Pustekkom telah menghasilkan ratusan konten pembelajaran mobile untuk platform Android maupun featured phone.

Akan mubazir jika tablet yang akan diberikan ke sekolah hanya untuk bahan ajar saja. Pemanfaatan piranti komputasi yang diberikan nantinya dapat dioptimalkan lebih jauh untuk mendukung proses pembelajaran di kelas, tidak hanya sekedar sebagai sumber bacaan, namun dapat dioptimalkan untuk piranti kreativitas siswa. Siswa dapat belajar mencari informasi, mengolah informasi dan menyajikan informasi serta berkreasi secara visual menggunakan piranti komputasi yang ada. Pemanfaatan seperti ini tentu akan meningkatkan pengalaman belajar siswa sebagai pemroduksi informasi, tidak sekedar menjadi pengkonsumsi informasi.

Guru tentu memiliki peranan yang sangat penting dalam kesuksesan pemanfaatan e-Sabak. Dengan peran sebagai fasilitator, tentu Guru harus mampu mengarahkan dan memfasilitasi para siswa dalam memanfaatkan piranti ini untuk belajar, sehingga Guru perlu dilatih dan didampingi dalam memperbaiki kualitas pengajarannya dengan mengintegrasikan solusi ini dalam kegiatan belajar mengajar. Para Guru tidak hanya dilatih dengan kemampuan penguasaan teknologi, namun juga kemampuan pedagogi (seni mengajar) sehingga mampu mendelivery pembelajaran dengan lebih berpusat pada siswa, mendorong kolaborasi dan berpikir tingkat tinggi serta berbagai kecakapan abad-21 yang perlu dikuasai siswa untuk bertahan dalam kompetisi di masa sekarang dan masa mendatang. Dengan seperti ini maka kualitas pembelajaran di daerah 3T dapat meningkat.

Bagaimana dengan kemampuan siswa dalam menggunakan piranti tablet ini? Apakah mereka perlu pelatihan khusus? Saya yakin bahwa ketika pembelajaran memanfaatkan piranti TIK ini dibawa para Guru ke kelas, para siswa tidak perlu pelatihan khusus yang lama tentang bagaimana menggunakan teknologi ini untuk belajar, karena para siswa dimanapun mereka berada adalah digital natives atau warga negara digital yang dilahirkan pada saat teknologi digital ini ada, sehingga kecepatan belajar menggunakan piranti ini akan lebih cepat dibandingkan kecepatan para guru itu sendiri.

Untuk dapat digunakan sebagai media kreasi, tentu diperlukan spesifikasi tablet yang mumpuni. Selain itu untuk memudahkan para siswa
mengetik, tablet juga perlu dilengkapi dengan Keyboard tambahan dan stylus (pena) jika diperlukan. Tablet yang rugged (tahan banting, anti-air dan debu) juga dapat menjadi pertimbangan jika penggunanya adalah siswa Sekolah Dasar, atau akan diberikan di lingkungan yang ekstrim kondisinya. Dengan spesifikasi seperti ini maka daya tahan tablet menjadi lebih lama dibandingkan dengan tablet consumer yang biasa beredar di pasaran.

Harus Lebih Berhasil dari Negara Lain
Tercatat di tahun 2012, Thailand mencanangkan program One Tablet Per Child (dengan nilai belanja sebesar $32,8 juta). Pada tahun yang sama Vietnam juga mencanangkan program serupa dengan mengimpor 900.000 unit tablet untuk siswa. Saat ini penyediaan piranti TIK di negara lain mulai berubah arah, tidak lagi menyediakan piranti untuk siswa namun untuk sekolah dengan menyediakan Smart Classroom seperti yang dilakukan di Thailand dan Malaysia. Malaysia telah bekerjasama dengan Google untuk menyediakan Google Chromebook bagi ribuan sekolah terpilih.

Indonesia pasti mampu untuk belajar dari keberhasilan pemanfaatan solusi tablet pendidikan dari negara lain dan menemukan formula keberhasilannya. Sebagai pemerhati TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) untuk Pendidikan saya memiliki harapan besar bahwa dengan program ini masyarakat akan mendapatkan pemahaman bahwa kebutuhan pemanfaatan TIK di dunia pendidikan sudah tidak terelakkan lagi karena perkembangan jaman. Selain itu dengan program inovasi TIK untuk pendidikan dengan skala besar secara tidak langsung akan berpengaruh pada geliat industri teknologi pendidikan, tidak hanya mengkonsumsi produksi luar negeri tapi juga bersinergi dengan startup teknologi pendidikan dalam negeri untuk memberi nilai lebih kepada tablet yang nantinya akan diberikan ke sekolah.

PENULIS : WINASTWAN GORA SWAJATI
EDITOR : SB BUDI W

Wawancara Khusus dengan Jumhur Hidayat


JAKARTA, TEGARNEWS.com - Redaksi Tegar News mendapatkan kehormatan berhasil mewawancarai salah seorang tokoh nasional yang juga aktivis mahasiswa era 1980 an, yakni Mohammad Jumhur Hidayat. 

Di tengah berbagai kesibukan, mantan Kepala BNP2TKI yang pernah dipenjarakan oleh rezim Orde Baru tersebut berkenan menerima wawancara khusus terkait pandangan dan visi atas situasi ekonomi-politik Indonesia saat ini. 

Berikut wawancara khusus dengan Tegar News, Rabu (2/9/2015). 

Tegar News (TN): Selamat siang Bang, terima kasih atas kesediaan waktu yang diberikan kepada Tegar News untuk wawancara khusus. Boleh tahu kesibukan Abang sekarang?

Mohammad Jumhur Hidayat (MJH): Yang pasti tetap berjuang. Di mana pun kita berada, perspektifnya adalah perjuangan. Kalau suatu hari anda jadi presiden pun, anda harus menganggap kepresidenan itu adalah alat perjuangan.

Kalau anda di luar pemerintahan dan terus berbuat untuk kepentingan rakyat banyak, maka itu juga perjuangan. Nah, sekarang saya berjuang melalui beberapa lembaga non pemerintah yang selama ini saya bersama mereka, seperti gerakan buruh, pedagang kaki lima, pemberdayaan masyarakat desa dan sebagainya

TN: Bagaimana analisa Abang tentang situasi ekonomi-politik kontemporer Indonesia?

MJH: Saya rasa bangsa ini memerlukan koreksi total agar demokrasi politik tidak menjadi alat untuk menguasai aset-aset produktif bangsa yang terbatas ini, yaitu aset sumber daya alam serta cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak. Hal ini jelas telah bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. 

TN: Abang dikenal sebagai tokoh yang pada saat menjadi birokrat berani mengambil sikap mendukung Jokowi-Jusuf Kalla pada Pilpres 2014 yang lalu, hingga Abang dicopot oleh Presiden saat itu yakni SBY. Apa dasar pemikiran Abang hingga mengambil posisi demikian? 

MJH: Saya terpesona dengan keinginan PDIP dan Jokowi untuk melaksanakan dengan sepenuh hati ajaran Trisakti Bung Karno, karena itu dalam Pileg 2014, saya mendukung --- bukan masuk --- PDIP dan tentunya mendukung Jokowi.

Namun sayang hingga saat ini saya masih belum melihat kesungguhan ingin melaksanakan ajaran Trisakti Bung Karno itu.

Contoh paling gampang saja, murah dan tanpa resiko dalam pelaksanaan Trisakti ini adalah jangan perpanjang kontrak JICT Pelabuhan Tanjung Priok dengan Hongkong dan jangan juga diberikan saham 30% ke perusahaan Perancis TOTAL dalam pengelolaan Blok Mahakam sehabis kontrak dengannya.

Biarlah Pelindo II dan Pertamina mengerjakan masing-masing kegiatan itu karena mereka sudah sangat mampu. Faktanya, kedua hal itu pun belum diputuskan hingga sekarang.

TN: Saat ini, sebagian rakyat gelisah dan mulai melakukan berbagai perlawanan sporadik atas berbagai kebijakan ekonomi-politik mulai di pusat hingga pelosok daerah. Bagaimana komentar Abang?

MJH:  Iya, keinginan rakyat memang sederhana saja yaitu meningkat daya belinya, bisa memenuhi kebutuhan pokok dengan mudah serta pelayanan sosial lain seperti kesehatan dan pendidikan yang terjangkau.

Faktanya, hal yang paling diharapkan daya beli meningkat malah justru sebaliknya, mendadak turun karena utamanya dipicu kenaikan BBM di saat harga BBM dunia sedang turun. Nah, dengan daya beli yang menurun ini, maka semua sektor produktif yang menghasilkan produk-produk massal, langsung terpukul karena barangnya tidak terbeli. Ujung-ujungnya ya PHK dan penutupan perusahaan.

Maka justru aneh kalau tidak ada perlawanan terhadap keadaan ini.

TN: Ada saran untuk gerakan mahasiswa yang seakan sepertinya melempem tertidur lelap? Bagaimana Abang membandingkannya dengan saat menjadi aktivis mahasiswa era 1980 an?

MJH: Saya masih beranggapan bahwa mahasiswa adalah bagian dari kelas menengah di republik ini, sehingga yang utama diperlukan mereka adalah demokrasi politik.

Sehingga ketika mereka sudah bisa bicara lantang, apalagi sekarang sudah ada media sosial seperti twitter dan facebook dan lain-lain, maka mereka menganggap berlantang-lantang di media tersebut sudah bagian dari perjuangan dan itu sudah memuaskan batin mereka.

Sedangkan dulu ketika era 80-an, bersuara lantang, berorganisasi dan sebagainya itu dilarang sehingga mahasiswa berontak karena kepentingannya terganggu.

Nah, kalau sekarang kelompok yang merasakan langsung dari kebijakan yang salah dari negara itu adalah kelompok sektoral ekonomi seperti buruh, tani, pedagang kaki lima, nelayan dan sebagainya. Makanya ketika kepentingan sektoral mereka terganggu, gerakan massa hingga puluhan ribu sering terjadi.

Berbeda dengan gerakan mahasiswa sekarang yang ingin menggerakkan massa turun ke jalan dalam jumlah ratusan orang saja susahnya minta ampun. Silahkan saja anda tanyakan pada ketua-ketua atau pengurus BEM.

TN: Kalau suatu saat situasi dan kondisi meminta Abang untuk muncul menjadi pemimpin barisan oposisi, apakah Abang siap? Apa tawaran program perjuangan dan strategi taktik ke depan dari Abang?

MJH: Pemimpin itu bukan dibuat tapi dilahirkan oleh zaman melalui ujian-ujian yang dilewatinya.

Terkait dengan pemimpin barisan oposisi, maka itu bukan soal siap atau tidak siap, tapi apakah memang momentumnya akan mengarah ke orang itu atau tidak. Siapapun saya yakin akan siap mengambil amanah itu bila memang momentumnya ke arah orang itu.

TN: Bagaimana Abang memandang peranan pers dan media sosial dalam dinamika politik ke depan? 

MJH: Pers dan media sosial pasti penting dong. Mereka alat berkomunikasi dengan cepat dan bisa jamak hingga jutaan orang dalam sekian detik atau menit atau hari.

Namun, kecuali media sosial, kita juga harus waspada dengan pers konvensional cetak dan elektronik, karena sesungguhnya freedom of press is the freedom of the press owner!

Karena itu, bila si pemilik sudah melakukan deal-dealan dengan kekuasaan, maka jangan harap pers bisa menyuarakan dengan seutuhnya perjuangan kaum tertindas.

TN: Terakhir, apa harapan, saran dan kritik Abang untuk Tegar News?

MJH: Mudah-mudahan pemilik Tegar News tidak mudah melakukan deal-dealan dengan kekuasaan sehingga beritanya tidak obyektif.

Dari sisi substansi dan teknik penulisan berita, saya rasa sudah bagus dan seiring dengan berjalannya waktu, pastinya akan terus berbenah diri sehingga akan lebih bagus lagi.

Selamat ya, atas pendirian Tegar News ini. Mudah-mudahan bisa menjadi media alternatif terpenting di Republik Indonesia. 

TN: Terimakasih, Bang. Selamat siang. 

PENULIS: RICKY TAMBA

Minggu, 30 Agustus 2015

Proses Belajar ( dari ) Antre



JAKARTA - TEGARNEWS.com ,  Menukil kisah tentang seorang guru yang mengatakan, sebagai guru ia tak terlalu cemas jika anak didiknya tak pandai matematika. Dia jauh lebih cemas jika mereka tak pandai mengantre. Ditanya kenapa, dengan penuh keyakinan dia menjawab cukup sekitar tiga bulan intensif untuk menguasai matematika. Untuk pandai mengantre dan mengingat pelajaran di balik proses mengantre, perlu setidaknya 12 tahun.

Selanjutnya dikatakan, kelak tidak semua anak didiknya memilih profesi yang berhubungan langsung dengan matematika kecuali keterampilan tambah, kali, kurang, dan bagi. Namun yang jelas, semua anak didiknya itu akan memerlukan etika dan moral (yang didapatkan dari pelajaran mengantre) sepanjang hidup mereka kelak. Lalu dengan tangkas guru itu menjelaskan sebagian nilai-nilai kehidupan berharga di balik keterampilan mengantre, yang akan saya adaptasi sesuai konteks tulisan ini.

Pertama, anak akan belajar manajemen waktu dengan baik, terencana, dan jika ingin mengantre paling depan, ia harus datang lebih awal. Kedua, anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba, terutama jika ia berada di antrean paling belakang. Ketiga, anak belajar menghormati hak orang lain (dan haknya sendiri), yang datang lebih awal dapat giliran lebih dulu. Keempat, anak belajar berdisiplin. Kelima, anak belajar kreatif memikirkan kegiatan apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan selama mengantre (di Jepang biasanya orang membaca buku saat mengantre). Keenam, anak belajar tabah menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

Ketujuh, anak belajar hukum sebab-akibat, bahwa jika terlambat harus menerima konsekuensi di antrean belakang. Kedelapan, anak belajar keteraturan dalam hidup. Kesembilan, anak belajar memiliki rasa malu. Kesepuluh, anak belajar jujur pada diri sendiri dan orang lain. (30/08/2015)

EDITOR  :  SB BUDI  W
FOTO    :  AYU SL
 
Copyright © 2014 iso 9001 Certification. Designed by OddThemes